Seni rudat harus dilestarikan keberadaannya sebagai potensi wisata budaya Belitung Timur

Pulau belitong mulai banyak dikenal setelah muncul film Laskar Pelangi, film ini diangkat dari buku laskar pelangi yang berceritra tentang perjuangan anak - anak SD Muhamadiyah dalam mengenyam pendidikan pada tahun 1970-an di Belitung Timur yang ditulis oleh Andrea Hirata. Mungkin. banyak yang tidak tahu bahwa Belitung Timur memiliki banyak seni dan budaya khas lokal yang berlatarbelakang seni budaya melayu. Seni budaya khas lokal tersebut seperti rudat, sepen, becampak, atraksi antu bubu, atraksi Lesong Ketintong dan lain sebagainya. Seni rudat merupakan seni gerak dan vokal diiringi tabuhan ritmis dari waditra sejenis terbang, syair – syair yang terkandung dalam nyanyaiannya bernafaskan kegamaan, yaitu puja-puji yang mengagungkan sang maha pencipta, shalawat dan rosul. Oleh sebab itu seni rudat adalah perpaduan seni gerak dan vokal yang diiringi musik terbangan yang didalamnya terdapat unsur ke agamaan/reliji, seni tari dan seni suara .

Kesenian rudat lahir berawal dari seorang anak sultan pontianak yang bernama Lailatur Qadri, ia merupakan seorang anak semata wayang yang taat beribadah dan memiliki kemampuan pencak silat. Suatu masa kerajaan sepi dan tidak terdapat aktivitas seni yang meramaikan suasana kesultanan, Lailatur qadri kemudian diperintahkan oleh sultan untuk mengajar pencak silat kepada warga keraton. Melihat kepiawaian anaknya dalam beladiri, sultan berpikir untuk menjadikan pencak silat tersebut sebagai rudat (tarian), kemudian seni rudat pun menyebar sampai ke pulau belitong. Pada tahun 2016, rudat telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia dari Belitung Timur berdasarkan usulan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belitung Timur. Saat ini, seni rudat sering ditampilkan pada event - event kepariwisataan yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belitung Timur dalam menghibur para tetamu dan wisatawan yang hadir.

The movie of laskar pelangi was booming, it caused most people known belitong island. The movies adapted from the famous/best seller novel written by Andrea Hirata. Belitung Timur/East Belitung has various of art and culture that influenced by malay culture such as rudat, sepen, becampak (campak dance is youth social dance along with reciprocating pantun), lesong ketintong attraction, antu bubu attraction and etc. In 2016, rudat had been established as indonesian intangible culture from East Belitung Regency, based on official proposal by the Culture and Tourism Department of East Belitung Regency. Nowdays, rudat often performed in the tourism event for entertain the guests and tourists that held by the Culture and Tourism Department of East Belitung..

Penulis: 
Hardinata
Sumber: 
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Belitung Timur

Artikel

04/03/2020 | Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Belitung Timur
20/02/2020 | Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Belitung Timur
03/02/2020 | Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Belitung Timur
23/01/2020 | Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Belitung Timur
15/01/2020 | Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Belitung Timur